Kenali Cara Penularan Klamidia yang Dapat Mengganggu Kehamilan

Hampir setiap orang mengerti bahwa hubungan seksual yang aman hanya dilakukan dengan satu pasangan saja. Berganti-ganti pasangan berisiko menyebabkan Anda tertular penyakit menular seksual, klamidia salah satunya.

Penyakit ini rentan terjadi pada orang yang berhubungan seksual dengan banyak orang atau tanpa pengaman. Dapat terjadi pada pria atau wanita, meskipun wanita termasuk yang lebih rentan tertular klamidia.

Wanita yang tertular klamidia dapat terganggu kesuburannya, menjadi sulit hamil. Apabila berhasil mengandung pun, ada risiko tinggi penyakit ini akan membahayakan kehamilan tersebut.

Jadi, penting sekali untuk berperilaku seksual yang aman dan sehat serta memahami cara-cara penularan penyakit seksual.

Inilah cara penularan klamidia

Klamidia terjadi akibat infeksi bakteri Chlamydia trachomatis, yang dapat menyebar melalui hubungan seksual secara vaginal, anal, maupun oral.

Berhubungan intim memang cara paling lazim yang menyebabkan penularan klamidia. Namun, penularan tidak hanya terjadi melalui alat kelamin. Bakteri dapat menempel pada mainan seks, misalnya. Penggunaan bersama mainan seks tanpa dicuci atau ditutup kondom juga berisiko menularkan klamidia.

Selain itu, vagina dan penis yang bersentuhan tanpa ada penetrasi, orgasme, atau ejakulasi juga tetap dapat menularkan klamidia. Bahkan, cairan semen atau cairan vagina yang mengandung bakteri klamidia dapat menjadi media penularan jika kontak dengan mata.

Ibu yang terinfeksi klamidia juga dapat menularkannya kepada janin. Bayi yang tertular klamidia dapat mengalami infeksi mata dan paru-paru yang serius saat dilahirkan. Risiko untuk terjadi kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah juga meningkat.

Akan tetapi, penyakit ini tidak akan menular melalui kontak fisik dalam bentuk pelukan atau ciuman.

Mitos lain yang beredar di masyarakat, klamidia dapat menular bila Anda berenang di dalam satu kolam dengan pengidap. Hal ini sama sekali tidak benar.

Mencegah dan mengobati klamidia

Berdasarkan cara penularannya, tentu cara utama yang dapat dilakukan agar tidak tertular klamidia adalah tetap setia dengan satu pasangan. Hindari berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan.

Usahakan juga untuk selalu menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Kecuali benar-benar yakin bahwa pasangan Anda tidak mengidap klamidia. Bagaimana cara mengetahuinya?

Tidak ada salahnya mengajak pasangan melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk tes untuk mendeteksi adanya penyakit menular seksual. Apalagi bila Anda dan pasangan merupakan pasangan baru.

Bila sudah tertular, tentu Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh perawatan yang sesuai. Umumnya, dokter akan memberikan antibiotik untuk pengobatan jangka pendek.

Agar tidak terjadi komplikasi yang serius, pengobatan harus dilakukan sedini mungkin. Penyakit klamidia yang tidak ditangani dengan baik, dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya, antara lain menjadi pemicu radang panggul, radang testis, bahkan infertilitas.

Dokter biasanya akan memberikan antibiotik untuk diminum selama satu minggu. Jenis antibiotik yang diberikan dapat ofloxacin, erythromycin, doxycycline, azithromycin, atau amoxicillin. Obat-obatan ini tidak boleh digunakan tanpa petunjuk dari dokter.

Selama masa pengobatan, penderita dan pasangannya tidak boleh melakukan hubungan intim. Sebagai contoh, bila telah menjalani pengobatan satu hari, maka hingga 7 hari berikutnya, penderita dan pasangannya tidak boleh melakukan hubungan seksual.

Apabila pasien berusia di bawah 25 tahun, disarankan untuk melakukan pemeriksaan kembali dalam waktu 3 bulan setelah pengobatan selesai. Karena mereka yang berusia di bawah 25 tahun rentan sekali untuk tertular kembali oleh klamidia.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>