masalah kulit tagged posts

Buat Deterjen Sendiri agar Terhindar Alergi Sabun Cuci

Alergi sabun menyebabkan kulit gatal saat bersentuhan dengan zat kimia

Pola kehidupan zaman sekarang sudah banyak berubah di berbagai sektor, tak terkecuali di bagian domestik, seperti urusan mencuci. Penggunaan deterjen pun semakin marak dan sudah tidak menjadi sesuatu yang asing lagi. Masalahnya, bahan-bahan yang ada di dalam deterjen kadang tidak ramah terhadap kulit manusia sehingga sering terjadi kasus alergi sabun cuci.

Di sisi lain, jika ditinjau dari aspek ekonomi, penggunaan deterjen juga cenderung tidak ramah di kantong. Harga dari deterjen cukup mahal bagi sebagian orang jika ditilik dari bahan baku yang digunakan. 

Sebenarnya, bahan baku yang digunakan oleh hampir semua jenis deterjen yang beredar di pasaran, baik itu yang bubuk maupun bentuk cair terbilang murah. Yang menjadikannya mahal adalah biaya produksi dan promosi produsen yang dibebankan kepada konsumen.

Nah berangkat dari situ, untuk menyiasati aspek ekonomi dan kesehatan, siapa pun sebenarnya bisa membuat deterjen sendiri. Anda bisa memilih bahan-bahan apa saja yang ramah dengan kulit Anda sehingga meminimalisir terjadinya alergi sabun cuci.

Berikut ini beberapa langkah atau cara untuk membuat deterjen sendiri di rumah:

  1. Membuat Deterjen dengan Lerak

Mungkin banyak yang masih asing dengan lerak. Lerak (Sapindus rarak) adalah tumbuhan yang dikenal karena kegunaan bijinya yang dipakai sebagai deterjen tradisional. Biji lerak mengandung saponin, suatu alkaloid beracun, saponin inilah yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci, dan dapat pula dimanfaatkan sebagai pembersih berbagai peralatan dapur, lantai, bahkan memandikan dan membersihkan binatang peliharaan.

Untuk membuat deterjen dengan lerak untuk menghindari alergi sabun cuci sekaligus melakukan penghematan, Anda perlu menyiapkan bahan-bahan seperti:

  • 20 buah lerak
  • 6 cangkir (1,5 liter) air

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencampur lerak dengan air di dalam panci untuk kemudian mendidihkannya selama beberapa waktu, biasanya dalam waktu 30 menit dengan api besar. Proses ini bertujuan untuk melepaskan kandungan saponin di dalam lerak.

Setelah air mendidih, kecilkan api dan teruskan proses perebusan selama setengah jam lagi. Selama lerak direbus, tekan perlahan cangkangnya dengan garpu untuk membantu melepaskan kandungan saponin secara sempurna.

Kemudian saring dan dinginkan rebusan lerak tadi. Proses pendinginan biasanya memakan waktu hingga satu jam. Volume air dan lerak dalam formula ini akan menghasilkan sekitar 900 ml detergen. Untuk memudahkan penggunaan, Anda bisa memindahkan cairan tersebut ke wadah tersendiri. Pastikan wadah yang digunakan kedap udara untuk memperpanjang masa pakainya.

Anda sudah bisa menggunakan cairan tersebut sebagai deterjen. Namun, untuk penyimpanan Anda perlu memastikan secara cermat. Pasalnya, detergen lerak akan rusak jika dibiarkan selama beberapa hari dalam suhu panas. Jadi, usahakan untuk menyimpannya dalam lemari es. Asalkan disimpan dalam kondisi dingin, detergen lerak bisa digunakan hingga paling lama 2 minggu.

  1. Membuat Deterjen Bubuk dengan Sabun Batang

Anda juga bisa membuat deterjen sendiri dengan memanfaatkan sabun mandi batangan. Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah:

  • 280 gram sabun batang
  • 660 gram soda abu
  • 2 cangkir (sekitar 800 gram) boraks
  • 30 tetes minyak esensial

Cara membuat:

  • Parut sabun batang
  • Haluskan hasil parutan sabun dalam food processor
  • Campurkan semua bahan yang tersisa
  • Masukkan detergen ke dalam toples kedap udara
  • Deterjen siap disimpan atau langsung digunakan

Saat Anda ingin mencuci dengan deterjen ini, Anda cukup tuang 1 sendok makan bubuk detergen ke dalam mesin cuci efisiensi tinggi atau 2 sendok makan ke dalam mesin cuci biasa. Oleh karena bubuk detergen ini mengandung hasil parutan sabun, sebaiknya gunakan bersama air hangat atau panas.

***

Alergi sabun cuci cukup menjengkelkan lantaran bisa membuat tangan atau anggota tubuh lain mengalami ruam, gatal-gatal, hingga gangguan kulit lain. Oleh karenanya, dua langkah yang bisa dilakukan seseorang untuk membuat deterjen sendiri ini mungkin bisa menjadi alternatif bagi seseorang agar terhindar dari alergi sabun cuci.

Read More

Rosacea

Rosacea adalah masalah kulit kronis berupa kemerahan atau pembuluh darah tipis pada bagian wajah yang disertai dengan benjolan kecil seperti jerawat. Penyakit tersebut mempengaruhi penampilan fisik seseorang dan memberikan dampak psikologis, namun bisa diatasi dengan pengobatan jangka panjang.

Tipe Rosacea

Rosacea dibagi menjadi empat tipe, antara lain:

  • Rosacea erythematotelangiectatic (ETR)

Rosacea ETR adalah tipe rosacea yang menimbulkan kemerahan pada wajah.

  • Rosacea papulopustular

Rosacea papulopustular adalah tipe rosacea yang berhubungan dengan jerawat.

  • Rosacea rhinophyma

Rosacea rhinophyma adalah tipe rosacea yang menimbulkan penebalan kulit pada bagian hidung manusia.

  • Rosacea okular

Rosacea okular adalah tipe rosacea yang terjadi di bagian mata.

Gejala Rosacea

Orang-orang yang mengalami rosacea dapat mengalami gejala sebagai berikut:

  • Wajah terlihat merah (flushing), terutama di bagian pusat wajah yang meliputi hidung, pipi, dahi, dan dagu.
  • Benjolan kecil kemerahan pada kulit yang terlihat seperti jerawat, namun bisa berisi nanah jika terinfeksi.
  • Terasa nyeri atau terbakar pada kulit.
  • Pembuluh darah kecil pada kulit menjadi terlihat.
  • Hidung membesar akibat adanya penebalan kulit di bagian tersebut.
  • Kulit kering, kasar, atau bersisik.
  • Mata kering, mengalami iritasi, atau membengkak, dan kelopak mata terlihat merah.

Penyebab Rosacea

Penyebab rosacea belum diketahui. Namun, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan. Ada beberapa penyebab yang dapat membuat seseorang terkena rosacea, antara lain:

  • Mengkonsumsi makanan atau minuman yang pedas.
  • Mengkonsumsi minuman beralkohol atau yang mengandung kafein.
  • Bakteri usus Helicobacter pylori.
  • Tungau kulit Demodex.
  • Cathelicin.
  • Stres.
  • Suhu ekstrim.
  • Penggunaan produk kosmetik.
  • Obat-obatan yang dapat memicu pelebaran pada pembuluh darah.

Risiko Terhadap Penyakit Rosacea

Semua orang bisa berpotensi mengalami rosacea, namun risiko terhadap penyakit tersebut lebih tinggi pada:

  • Wanita.
  • Orang yang memiliki kulit terang yang sering terpapar sinar matahari.
  • Orang yang berusia lebih dari 30 tahun.
  • Perokok.
  • Orang yang memiliki riwayat rosacea, atau yang dipengaruhi oleh faktor genetik.

Komplikasi Rosacea

Pada sebagian kasus, rosacea dapat menimbulkan gejala yang berat, namun jarang terjadi. Gejala berat yang bisa dialami manusia adalah kelenjar minyak pada bagian kulit hidung dan pipi membesar. Hal tersebut dapat menghasilkan penebalan di sekitar hidung yang disebut sebagai rhinophyma. Gejala tersebut lebih umum terjadi pada laki-laki dan bisa dialami lebih dari setahun.

Diagnosis Terhadap Penyakit Rosacea

Jika Anda terkena rosacea, Anda sebaiknya konsultasikan masalah ini dengan dokter. Dokter akan melakukan diagnosis yang meliputi pemeriksaan lebih lanjut terkait kondisi yang Anda alami, untuk mencegah penyakit lain yang memungkinkan terjadi seperti jerawat, psoriasis, eksim, atau lupus. Kondisi seperti ini dapat memicu tanda dan gejala yang serupa dengan rosacea.

Cara Mengatasi Rosacea

Setelah mengetahui kondisinya seperti apa, rosacea dapat diatasi dengan cara berikut:

  • Menggunakan krim dan gel untuk mengurangi gejala akibat rosacea.
  • Antibiotik jika Anda terkena infeksi bakteri.
  • Menghindari faktor pemicu terjadinya rosacea seperti konsumsi makanan pedas.

Persiapan Terkait Dengan Rosacea

Jika Anda mengalami gejala rosacea, Anda sebaiknya atur jadwal temu dengan dokter atau spesialis kulit agar masalah tersebut dapat segera diobati.

Sebelum bertemu dengan dokter, Anda dapat menyiapkan pertanyaan sebagai berikut:

  • Bagaimana gejala rosacea bisa terjadi?
  • Apakah kondisi yang dialami, terjadi dalam jangka waktu yang panjang atau pendek?
  • Diagnosis seperti apa yang perlu dilakukan?
  • Bagaimana cara mengobati rosacea?

Dokter juga akan memberikan beberapa pertanyaan terkait dengan kondisi yang Anda alami. Berikut adalah pertanyaan yang diberikan dokter:

  • Kapan Anda mengalami gejala rosacea?
  • Seberapa sering Anda mengalami gejala rosacea?
  • Bagaimana kondisi yang dialami, membaik atau memburuk?
Read More