masalah reproduksi tagged posts

Spermatokel

Muncul Jerawat di Penis, Berbahayakah?

Spermatokel merupakan kista jinak yang terbentuk pada bagian epididimis. Epididimis merupakan saluran yang melingkar pada bagian belakang kedua testis dimana hal tersebut memiliki kegunaan untuk mengantar sperma yang dihasilkan testis.

Kista tersebut terletak di dekat testis, namun tidak menimbulkan rasa sakit. Spermatokel memiliki cairan berwarna putih dan terlihat bening seperti susu, dan mengandung sperma.

Gejala

Seseorang yang mengalami spermatokel bisa mengalami gejala sebagai berikut:

  • Pembengkakan pada bagian atas dan belakang testis.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman pada testis yang terkena kista.
  • Terasa berat pada bagian testis.

Penyebab

Penyebab spermatokel tidak dapat ditentukan dengan pasti. Meskipun demikian, para ahli berpikir bahwa kista jinak muncul karena adanya hambatan pada saluran epididimis yang membawa dan menyimpan sperma pada bagian buah zakar manusia.

Faktor Risiko

Faktor risiko yang terjadi akibat spermatokel juga tidak dapat diketahui. Namun, seseorang yang ibunya diberikan obat diethylstilbestrol (DES) pada masa kehamilan untuk mencegah keguguran dan komplikasi kehamilan lainnya dapat meningkatkan risiko terhadap spermatokel.

Sebuah penelitian juga menyatakan bahwa penggunaan obat DES dihentikan pada tahun 1971 karena dapat memicu risiko kanker vagina langka pada wanita.

Komplikasi

Spermatokel tidak menimbulkan komplikasi pada tubuh manusia. Namun, jika spermatokel tumbuh besar dan terasa sakit, Anda mungkin perlu menjalani operasi untuk mengangkat spermatokel.

Pengangkatan dengan pembedahan dapat memicu kerusakan pada epididimis atau vas deferens, sebuah tabung yang dapat mengangkut sperma dari epididimis ke penis. Hal tersebut juga dapat mengurangi kesuburan manusia.

Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah spermatokel bisa muncul lagi, walaupun sudah menjalani operasi. Hal tersebut juga jarang terjadi pada manusia.

Diagnosis

Jika Anda mengalami spermatokel, Anda dapat konsultasikan masalah ini ke dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan melakukan diagnosis. Sebelum melakukan diagnosis, dokter akan menanyakan kondisi Anda.

Setelah menanyakan kondisi Anda, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan mencari tahu bagian yang nyeri bila disentuh.

Selain melakukan pemeriksaan fisik di atas, dokter juga akan menganjurkan untuk melakukan tes berikut:

  • USG: USG dilakukan untuk mengetahui jika terdapat kista pada skrotum pasien.
  • Transiluminasi: Transiluminasi dilakukan dengan menyinari skrotum dengan senter. Cahaya akan tembus jika skrotum berisi cairan dan tidak akan tembus jika bagian skrotum padat.

Pengobatan

Untuk mengobati spermatokel, berikut adalah pengobatan yang dapat dilakukan:

  • Terapi invasif minimal: Terapi invasif minimal dilakukan dengan mengalirkan cairan pada spermatokel dan menggunakan skleroterapi, yakni menyuntikkan zat pada kista yang dapat mengatasi cairan di dalamnya.
  • Terapi bedah: Terapi bedah atau spermatocelectomy dilakukan untuk mengeluarkan kista dari epididimis dan mempertahankan fungsi sistem reproduksi pasien.

Pencegahan

Tidak ada cara yang dilakukan untuk mencegah spermatokel, namun Anda dapat memeriksa sendiri pada skrotum. Berikut adalah cara untuk memeriksa skrotum:

  • Berdiri di depan cermin.
  • Amati buah zakar Anda jika terdapat gangguan seperti peradangan berupa bengkak atau kemerahan pada kulit skrotum.
  • Periksa testis dengan kedua tangan. Caranya dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada bagian bawah testis, dan ibu jari pada bagian atas testis.
  • Menggeser testis di antara ibu jari dan jari lainnya secara perlahan-lahan.

Testis bisa lunak, lonjong, atau keras. Jika kedua testis memiliki ukuran yang tidak sama, maka kondisinya normal.

Kesimpulan

Spermatokel merupakan gangguan yang perlu diwaspadai, karena dapat menimbulkan berbagai gejala. Jika ingin mengatasi gangguan seperti ini, Anda sebaiknya ikuti petunjuk yang diberikan di atas. Untuk informasi lebih lanjut tentang spermatokel, Anda bisa tanyakan persoalan ini ke dokter.

Read More